Text
Potret Seorang Penyair Muda Sebagai si Malin Kundang
Malin Kundang telah terkutuk, dan tak seorang pun mencoba memahaminya. Perahunya kandas di depan pantai, dan dalam legenda disebutkan, bahwa pemuda durhaka itu kemudian menjadi batu. Ibunya telah mengucapkan kutuk atas dirinya. Perempuan tua yang miskin itu kecewa dan sakit hati: anak tunggalnya tak mau mengenalnya lagi, ketika ia singgah sebentar di desa kelahirannya sebagai seorang kaya setelah mengembara bertahun-tabun. Dan kisah turun-temurun ini pun berkata, bahwa dewa-dewa telah memihak sang ibu. Ini berarti bahwa semua soal berakhir dengan beres: bagaimana pun, setiap pendurhakaan harus celaka. Tak seorang pun patut memaafkan Si Malin Kundang. Kita tak pernah merasa perlu memahami perasaan-perasaannya.
| P00328B | 808.4 GOE p | My Library (800 3) | Tersedia |
| P00329B | 808.4 GOE p | My Library (800 3) | Tersedia |
| P00330B | 808.4 GOE p | My Library (800 3) | Tersedia |
| P01011B | 808.4 GOE p | My Library (800 8) | Tersedia |
| P01012B | 808.4 GOE p | My Library (800 8) | Tersedia |
| P01044B | 808.4 GOE p | My Library (800 8) | Tersedia |
| P01045B | 808.4 GOE p | My Library (800 8) | Tersedia |
| P01208B | 808.4 GOE p | My Library (800 9) | Tersedia |
| P02489B | 808.4 GOE p | My Library (800 10) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain